Kiat Anak Gemar Bersedekah

Minggu, 16 Agustus 2009

Oleh Zulia Ilmawati

Ada suatu kebiasaan menarik yang dilakukan keluarga ibu Rani setiap menjelang bulan Ramadhan. Kebiasaan ini tergolong langka, tapi itulah yang dilakukan Ibu Rani untuk mendidik 3 anaknya beramal shalih sejak dini. Menjelang bulan puasa tiba ibu Rani selalu menyiapkan 3 celengan tanah liat yang sengaja dibelinya di pasar. Ini sudah yang ketiga kalinya. Celengan itu akan dibagikan untuk ketiga anaknya, dan diisi selama bulan Ramadhan dari uang jajan yang biasa diberikan anak. Celengan-celengan itu akan di pecah ramai-ramai lima hari menjelang lebaran. Untuk apa? Bukan untuk membeli baju baru, tapi dibagikan kepada anak-anak yatim di sekitar rumahnya.

Mengembangkan Empati Anak Lewat Bersedekah

Bersedekah merupakan pemberian dari seorang muslim secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah. Dari segi bentuknya, sedekah sesungguhnya tidak dibatasi pemberian dalam bentuk uang, tetapi sejumlah amal kebaikan yang dilakukan seorang muslim. Rasulullah SAW bersabda:

“ Setiap muslim wajib bershadaqah”; para sahabat bertanya: “Bagaimana bila ia tidak mempunyai sesuatu untuk dishadaqahkan?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia bekerja hingga dapat mencukupkan kebutuhannya sendiri dan dapat pula bershadaqah”; para sahabat bertanya lagi: Bila ia tidak dapat bekerja bagaimana?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia menolong orang yang memerlukan pertolongan”; para sahabat bertanya pula: “Bila ia masih tidak juga bagaimana?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia menyuruh orang lain berbuat baik”; para sahabat masih bertanya lagi: “Bila beramar ma’rufpun ia tidak dapat, bagaimana?” Nabi menjawab: “Hendaklah ia menahan diri dari keburukan; sungguh menahan diri dari keburukan itu merupakan shadaqah” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim dan An-Nasaai)

Bersedekah di bulan Ramadhan mempunyai nilai pahala yang sangat tinggi. Itulah kenapa ibu Rani menyengaja melakukan kebiasaan itu di bulan Ramadhan. Tentu juga karena nilai pahala yang sangat berlipat yang dengan itu akan lebih memotivasi anak untuk bersedekah. Rasulullah SAW bersabda:

“Seutama utama sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan” (HR. Turmudzi)

Bersedekah selain merupakan sarana beribadah juga bisa digunakan untuk melatih empati anak pada orang lain. Empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Mempunyai rasa empati adalah keharusan seorang manusia, karena di sanalah terletak nilai kemanusiaan seseorang. Karena itu, setiap orang tua wajib menularkan rasa empati kepada anak-anaknya.

Rasa empati pada anak harus diasah. Bila dibiarkan rasa empati tersebut sedikit demi sedikit akan terkikis walau tidak sepenuhnya hilang, tergantung dari lingkungan yang membentuknya.Banyak segi positif bila kita mengajarkan anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain. Karena empati berhubungan dengan kepedulian terhadap orang lain, tak heran kalau empati selalu berkonotasi sosial seperti menyumbang, bersedekah, atau meberikan sesuatu pada orang lain.

Rasulullah pun sangat menekankan pentingnya mengembangkan sikap empati ini. Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berempati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merasakan sakit.
Menurut Psikolog, Dra Henny Eunike Wirawan, M.Hum, anak bisa diajari konsep empati sejak usia 2 tahun, saat mereka sudah mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Biasanya dari hal-hal yang sederhana. Contoh ketika anak sedang makan dan di sampingnya ada orang, maka ajarkanlah anak untuk menawarkan makanannya. Dengan begitu anak biasa berbagi dan peduli pada orang lain.

Kiat Agar Anak Gemar Bersedekah

1. Berikan motivasi melalui hadits dan ayat-ayat yang berbicara tentang sedekah

Motivasi adalah dorongan yang timbul dalam diri seseorang. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits Rasulullah yang menggambarkan tentang pahala orang yang menafkahkan sebagian hartanya. Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut hendaknya sudah mulai dikenalkan kepada anak sejak dini. Dengan membacakanya, menghafal, dan mengkajinya akan memberikan motivasi yang luar biasa buat anak. Cara mengkajinya tentu dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ayat dan hadits yang bisa disampaikan antara lain:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas (KurniaNya) lagi Maha Mengetahui” (QS. 2:261)

“Setiap pagi ada dua Malaikat yang turun di langit dunia untuk memanjatkan doa kepada Allah; yang satu berdoa: “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang mau membelanjakan hartanya; yang lain memanjatkan doa: Ya Allah berilah kerusakan pada harta orang yang tidak mau membelanjakannya’ (HR. Bukhari Muslim)

1. Bacakan cerita-cerita sahabat Rasulullah yang gemar menafkahkan hartanya

Rasanya tidak ada anak-anak yang tidak suka cerita. Apalagi kalau yang bercerita adalah ibunya. Bercerita merupakan suatu aktivitas dimana anak memperoleh rasa senang ketika mendengarkan cerita yang dibacakan. Anak akan merasa senang bukan hanya karena mendengarkan suatu cerita, namun juga merasa dirinya diperhatikan dan diperlakukan secara spesial. Hal ini akan membantu menciptakan rasa aman dan percaya diri buat anak. Kesukaan anak-anak mendengarkan cerita biasanya didukung oleh kemampuan mereka memusatkan perhatian untuk beberapa lama terhadap obyek tertentu. Dan ini umumnya terjadi pada usia sekitar 3 atau 4 tahun.

Banyak memang buku cerita anak-anak yang berada di pasaran. Tapi orang tua yang bijak tentu tidak akan asal memilih buku, tetapi membeli yang sekaligus dapat menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak. Selain untuk menyampaikan pesan, membacakan buku cerita juga akan lebih mempererat hubungan ibu dengan anak, menambah perbendaharaan bahasa anak yang akan membantu perkembangan kemampuan sosialisasinya. Sekaligus untuk memberikan pembelajaran bagi anak agar kelak gemar membaca. Cerita tentang bagaimana Abu Bakar Ashidiq menyerahkan sebagian besar hartanya untuk dakwah, Aburrahman Bin Auf sahabat yang sangat kaya raya. Kekayaannya yang banyak dan melimpah ruah. Dialah seorang mukmin yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan duniannya oleh karena keuntungan agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah r.a yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tak terkira, dengan puas dan rela. Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam usia tujuh puluh lima tahun, Abdurrahman Bin Auf menjadi teladan yang cemerlang sebagai seorang mukmin yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi SAW memasukkannya dalam sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga. Subhanallah.

3. Keteladanan

Keteladanan merupakan metode yang sangat baik dalam pendidikan, apalagi dalam periode awal kanak-kanak. Pada tahun-tahun pertama obyek peniruan anak umumnya masih berkisar orang-orang di sekitar rumah, biasanya ayah atau ibu. Anak meniru tidak saja gerak tubuh, rasa senang, dan tidak senang, sikap agama, hobi tetapi juga ekspresi emosional orang tua. Dalam kenyataannya, kemampuan anak dalam meniru sesuatu lebih cepat daripada yang kita bayangkan. Anak adalah duplikasi dari orang tuanya. Jika orang tua berbuat baik, maka anak biasanya juga akan berbuat baik. Dalam melakukan peniruan, umumnya anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua, bukan apa yang dikatakannya.

Seorang anak yang melihat ibu dan ayahnya shalat lima kali sehari, membaca Al-Qur’an, berdoa kepada Allah dan berzikir, baik di waktu petang dan tengah malam, Insya Allah semua itu akan terlukis pada diri anak, sehingga ia akan selalu melaksanakan ajakan-ajakan yang ia dengar tiap pagi dan sore. Tingkah laku meniru adalah tingkah laku yang sangat menonjol pada anak-anak. Semakin bertambah usia anak, tidak hanya tingkah laku yang tampak saja yang akan ditirunya, tetapi juga sikap seseorang terhadap sesuatu. Oleh karena itu, orang tua harus bisa menjadi model yang baik. Bila dalam keseharian orang tua biasa memperlihatkan kepekaan serta kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, mampu berempati, bukan tidak mungkin anak akan menirunya. Sejalan dengan perkembangannya, akan meningkatkan kemampuan anak untuk memahami berbagai macam hal, dan diharapkan peniruan ini akan menjadi sebuah kemampuan, kebiasaan yang melekat pada anak. Tunjukkan kepedulian orang tua terhadap orang-orang yang tak mampu. Komitmen yang kuat dalam membantu penderitaan orang lain Insya Allah akan dapat menular kepada anak-anak.

1. Pembiasaan

Mendidik anak di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu. Demikian salah satu bunyi hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud. Memang akan lebih mudah mengajari anak kecil dari pada setelah menginjak remaja. Betapa banyak orang tua merasa kewalahan menyuruh anak remajanya membiasakan shalat lima waktu. Itulah pentingnya penanaman nilai-nilai Islam sedini mungkin. Bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Selain keteladanan dari orang tua, pembiasaan juga merupakan metode pembelajaran yang sangat tepat buat anak. Dan pembiasaan ini harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak.

Membiasakan anak-anak bersedekah seperti yang dilakukan ibu Rani sangat penting buat anak. Pendidikan melalui pembiasaan akan menjadikan anak terlatih sejak kecil, ringan di dalam memberikan pertolongan pada orang lain. Upaya kecil yang bisa dilakukan misalnya dengan membawakan bekal sekolah anak lebih dari satu, dengan pesan untuk dibagikan pada temannya yang tidak membawa membawa bekal.

1. Berikan Hadiah

Hadiah adalah berbagai bentuk apresiasi atau penghargaan terhadap suatu prestasi. Hadiah diberikan setelah anak mencapai prestasi tertentu, bukan sebelumnya. Jadi, bukan hadiah yang diberikan agar anak mau melakukan sesuatu. Masih banyak orang tua yang menganggap hadiah tidak penting, karena sudah seharusnya anak bertingkah laku baik dan dapat diterima oleh kelompoknya. Sementara yang lain, hadiah hanya akan melemahkan motivasi anak melakukan sesuatu yang seharusnya memang mereka lakukan. Akibatnya, banyak orang tua yang sedikit sekali memberikan hadiah ketimbang hukuman. Padahal seperti halnya hukuman, hadiah berperan penting dalam pembentukan tingkah laku anak.

Ada beberapa fungsi penting dari hadiah. Hadiah adalah salah satu bentuk pengetahuan yang membuat anak segera tahu bahwa tingkah lakunya itu baik. Sama halnya dengan hukuman yang menyadarkan anak bahwa tingkah lakunya tidak dapat diterima lingkungannya. Hadiah juga akan memotivasi anak untuk mengulangi tingkah laku yang dapat diterima. Anak-anak umumnya akan bereaksi positif terhadap penerimaan lingkungan yang diekspresikan lewat hadiah. Hadiah juga akan memperkuat tingkah laku yang dapat diterima lingkungan. Apabila anak mendapat penaghargaan atas tingkah lakunya, maka ia mendapatkan pemahaman bahwa apa yang dilakukannya itu berarti. Ini yang akan membuat anak termotivasi untuk terus mengulangi.

Hadiah tidak selamanya harus dalam bentuk materi. Yang pasti, apapun bentuk hadiah ia harus sesuai dengan kebutuhan anak. Bila tidak efektivitasnya akan hilang. Oleh karena itu diperlukan kepekaan orang tua untuk melakukan hal ini. Bagi anak yang belum bisa memahami pembicaraan, hargai kebaikannya dengan senyuman, pelukan atau bentuk komunikasi non verbal lainnya. Sebaliknya, bentuk non verbal tidak terlalu efektif untuk anak-anak yang lebih besar. Anak-anak ini butuh pernyataan pujian secara verbal dan nyata. Hadiah juga dapat berupa pujian atau pengakuan. Agar pujian bisa bermanfaat orang tua perlu melakukannya secara bijaksana. Pujian seyogyanya diberikan dalam segala suasana. Perlakuan istimewa juga bisa dijadikan hadiah buat anak. Misalnya memberikan izin untuk bermain lebih dari jam biasanya.

6. Ajaklah anak melihat sendiri dan mengalami kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang biasa ia jalani.

Ajaklah anak untuk mengunjungi tempat di mana banyak orang susah yang berkumpul di sana. Dengan itu mereka akan melihat ada sisi lain dari kehidupan manusia. Kita pun dapat memberi pemahaman kepada mereka dengan menjelaskan mengapa ada gelandangan yang mengais-ngais sampah, atau makan makanan yang telah dibuang ke tempat sampah, dan sebagainya. Sekali waktu anak bisa diajak ke panti asuhan, tempat bencana alam atau tempat-tempat lain yang membutuhkan uluran tangan. Selain mengajak anak langsung ke tempat-tempat seperti itu, anak juga bisa diajak melihat film-film tentang kaum muslimin yang didzolimi seperti film-film perjuangan rakyat palestina, Libanon atau penderitaan kaum muslimin di negara lainnya.

Selamat mencoba....

Sumber: http://eldiina.com

Menanamkan Aqidah pada Anak Usia 0 s.d 3 tahun

Aqidah Islam

Aqidah Islam adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir, kepada qadla dan qadar baik buruk keduanya dari Allah SWT. Keimanan terhadap keenam rukun iman tersebut haruslah didapat dengan proses berpikir dan dilandaskan pada dalil naqli maupun aqli. Akal memiliki peran yang sangat besar dalam proses keimanan seseorang.


“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan binatang-binatang melata yang berterbaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini.” (Al-Jaatsiyat 3-4)

MENANAMKAN AQIDAH

ANAK USIA 0 SAMPAI 3 TAHUN.

Aqidah Islam

Aqidah Islam adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir, kepada qadla dan qadar baik buruk keduanya dari Allah SWT. Keimanan terhadap keenam rukun iman tersebut haruslah didapat dengan proses berpikir dan dilandaskan pada dalil naqli maupun aqli. Akal memiliki peran yang sangat besar dalam proses keimanan seseorang.

“Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan binatang-binatang melata yang berterbaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini.” (Al-Jaatsiyat 3-4)


Menanamkan aspek keimanan kepada anak dapat dilakukan dengan mencoba mempelajari proses kehidupan Rasulullah SAW selama bergaul dengan anak-anak dan langkah-langkah yang dilakukan Beliau dalam membina dan mendidik pribadi mereka. Kita akan menemukan lima pola dasar pembinaan aqidah sebagai berikut : Mengajarkan kalimat tauhid, Menanamkan cinta kepada Allah SWT, Menanamkan cinta pada Rasulullah SAW, Mengajarkan Al-Qur’an dan mendidik anak berpegang teguh pada aqidah dan rela berkurban.

Perkembangan Anak Usia 0-3 tahun

Secara fisik anak usia 3 tahun sudah mampu melakukan gerakan-gerakan motorik yang sederhana. Seperti berdiri dalam keadaan siap, berdiri dengan 1 kaki selama 30 detik, melompat-lompat seperti katak, naik dan turun tangga, mengayunkan lengan secara berulang-ulang, melambungkan bola dan menendang bola dalam keadaan diam. Perkembangan motorik halusnya antara lain bisa meniru gerak gerik tangan, memegang pensil, membuat sesuatu dengan benda yang lunak (plastisin), membalik halaman buku satu persatu, menarik garis datar dan tegak, melipat, dan menggunting mengikuti garis lurus.

Anak sampai usia 3 tahun juga sudah dapat menberikan informasi tentang dirinya (nama panggilan dan umur), menirukan kembali urutan kata (2 kata), mengikuti perintah sederhana, menyanyikan satu lagu, mengemukakan keinginan, mengungkapkan rasa, menyebutkan bilangan , dan senang mendengarkan orang bercerita. Anak juga sudah mulai mandiri, tidak tergantung sepenuhnya pada orang tua. Bisa makan dan minum sendiri, membuka dan menutup pintu, membuka celana dan baju, mencuci tangan sendiri dan buang air sendiri. Perkembangan kognitifnya antara lain bisa menyebutkan 4 warna, membedakan ukuran benda besar dan kecil, mengetahui bentuk lingkaran, segitiga dan segi empat. Anak juga akan terus bertanya dengan menggunakan kata “apa”.

Sekalipun belum fasih mengucapkannya, anak usia 3 tahun sudah dapat melafadzkan doa dan hadits, melafadzkan dan hafal kalimat-kalimat thoyyibah. Anak juga mulai dapat mengenal dan mau melakukan gerakan wudlu dan shalat sekalipun belum berurutan.

Penanaman Aqidah Pada Anak 0-3 tahun

1. Mengajarkan Kalimat Tauhid

Ibnu Abbas ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jadikanlah kata-kata pertama kali yang diucapkan seorang anak adalah kalimat Laa ilaaha illallaah. Dan bacakan padanya ketika menjelang maut kalimat Laa ilaaha illallaah”. (HR. Al-Hakim).


Tujuan dari memperdengarkan dan mengajarkan kalimat tauhid ini agar pertama kali yang didengar anak yang baru lahir adalah kalimat tauhid. Jadikan suara yang didengar pertama oleh mereka adalah pengetahuan tentang Allah, keesaanNya. Mengajarkan kalimat tauhid sejak dini juga dilakukan dengan memperdengarkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:

“Bahwa Nabi SAW telah meyuarakan adzan pada telinga Al- Hasan Bin Ali (yang sebelah kanan) ketika ia dilahirkan dan menyuarakan iqomat pada telinga kirinya”.


2. Mengenalkan dan Menanamkan Cinta Pada Allah

Mengenalkan Allah pada anak usia di bawah 3 tahun juga dapat dilakukan dengan terus menerus melafadzkan kalimat thoyyibah. Seperti mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akabar disertai dengan aktivitas yang dilakukan sehingga anak bisa menyambungkan bacaan dan aktivitasnya. Misalnya Alhamdulillah diucapkan sebagai wujud rasa syukur ketika selesai melakukan aktivitas tertentu. Subhanallah dilafadzkan jika melihat ciptaan Allah dan sebagainya. Selain itu anak juga mulai dapat dikenalkan Allah melalui ciptaanNya. Anak-anak seusia ini sangat senang dengan binatang. Anak bisa kita ajak ke kebun binatang, mendengarkan suara-suara binatang, bernyanyi dan lain-lain. Tentang siapa Allah, ajarkan Surat Al-Ikhlas dengan artinya, dan juga lagu-lagu yang syairnya dapat mengenalkan anak pada Allah SWT.


3. Menanamkan Cinta pada Rasul

Rasulullah SAW bersabda:


“Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca Al-Qur’an. Sebab orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lindungan singasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain dari pada perlindunganNya beserta para NabiNya dan orang-orang yang suci” (HR. Ath-Thabrani)

Para sahabat dan ulama salaf sangat suka menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW terhadap anak-anak mereka, dengan diselingi materi pelajaran Al-Qur’an. Pemahaman terhadap sejarah kehidupan Nabi diyakini akan memberikan pengaruh kepada pendidikan dan perkembangan jiwa anak. Karena pemahaman yang baik terhadap kepribadian Nabi SAW, secara tidak disadari akan menumbuhkan rasa cinta anak terhadap pribadi beliau. Beliau akan dijadikan sebagai tokoh pujaan yang pada akhirnya anak akan berusaha meniru apa yang beliau telah lakukan selama hidupnya. Langkah semacam ini secara perlahan akan membentuk pribadi anak tidak lepas dari patokan agama, mampu memahai makna cinta yang sebenarnya terhadap beliau, serta memiliki semangat jihad yang tinggi dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari lingkungan yang penuh dengan kesesatan menuju lingkungan yang baik, dari dunia yang penuh dengan kebatilan menuju dunia yang penuh dengan kebenaran, dan dari lingkungan yang penuh kebodohan menuju cahaya Islam yang gemilang.


4. Mengajarkan Al-Qur’an


Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak berarti mengajak anak untuk dekat kepada pedoman hidupnya. Dengan cara itu, mudah-mudahan kelak ketika dewasa anak-anak benar-benar dapat menjalani hidup sesuai dengan Al-Qur’an. Inilah satu-satunya jalan untuk membentuk menjadi manusia yang shaleh. Mengajarkan Al-Qur’an pada anak 0 sampai 3 tahun dapat dilakukan dengan mulai mengenalkan, memperdengarkan, dan menghafalkan. Tak heran bila Rasulullah mengingatkan kita untuk mendidik anak dengan al Qur’an.

“Sesungguhnya Al-qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS. Al-Isra : 9).


Mengenalkan Al-Qur’an

Saat yang paling tepat mengenalkan Al-Qur’an adalah ketika anak sudah mulai tertarik dengan buku. Anak usia 2 sampai 3 tahun biasanya sudah mulai tertarik dengan buku. Hal ini penting, karena banyak orang tua yang lebih suka menyimpan Al-Qur’an di rak lemari paling atas. Sesekali perlihatkanlah Al-Qur’an kepada anak sebelum mereka mengenal buku-buku lain, apalagi buku dengan gambar-gambar yang lebih menarik. Mengenalkan Al-Qur’an juga bisa dilakukan dengan mengenalkan terlebih dulu huruf-huruf hijaiyyah. Bukan mengajarinya membaca, tetapi sekedar memperlihatkannya sebelum anak mengenal A, B, C, D. Tempelkan gambar-gambar tersebut ditempat yang sering dilihat anak.Tentu dilengkapi dengan gambar dan warna yang menarik. Dengan sering melihat, akan memancing anak untuk bertanya lebih lanjut. Saat itulah kita boleh memperkenalkan huruf-huruf Al-Qur’an.


Memperdengarkan

Memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD. Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, Insya Allah memperdengarkan Al-Qur’an akan jauh lebih baik pengaruhnya buat bayi. Apalagi jika ibu yang membacanya sendiri. Ketika membaca Al-Qur’an, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyu’ dan tenang. Kondisi seperti ini, akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada dalam kandungan karena secara teoritis, kondisi psikologis ibu tentu akan sangat berpengaruh pada perkembangan bayi khususnya perkembangan psikologisnya. Ibu yang sering mengalami stress, tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya.


Memperdengarkan Al-Qur’an bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Juga tidak mengenal batas usia anak. Untuk anak-anak yang belum bisa bicara, Insya Allah lantunan ayat al Qur’an itu akan terekam dalam memorinya. Dan jangan heran kalau tiba-tiba si kecil lancar melafadzkan surat al-Fatihah, misalnya begitu dia bisa bicara. Untuk anak yang lebih besar, memperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an (surat-surat pendek) terbukti memudahkan anak menghafalkannya.


Menghafalkan

Menghafalkan Al-Qur’an bisa dimulai sejak anak lancar berbicara. Mulailah dengan surat atau ayat yang pendek. Atau potongan lafadz dari sebuah ayat (misalnya fastabiqul khayrat, hudallinnas, birrulwalidayn dan sebagainya). Menghafal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tersebut kepada anak, dan latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hafal di luar kepala. Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orang tua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Menghafal bisa dilakukan kapan saja. Usahakan di saat anak merasa nyaman. Walau demikian, hendaknya orang tua tetap mempunyai target baik tentang ayat, atau jumlah yang akan dihafal anak.


5. Mendidik Berpegang Teguh Pada Aqidah dan rela Berkurban


Aqidah yang tumbuh dan tertanam dalam jiwa anak merupakan sesuatu yang sangat penting sebagai salah satu pijakan dan pedoman hidup dalam menata masa depan yang berarti dan secara tidak langsung berdampak positif bagi kelangsungan hidup masyarakat. Karena itu penanaman aqidah pada anak sejak dini merupakan sarana pendidikan yang efektif bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Dan diakui bahwa aqidah yang tertanam dalam jiwa anak akan semakin kokoh apabila anak bersangkutan memiliki nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan dalam dirinya untuk membela aqidah yang diyakini kebenarannya, bahkan tidak peduli terhadap resiko yang mengancam dirinya. Semakin kuat nilai perjuangan dan pengorbanan seseorang akan semakin kokoh pula aqidah yang dimiliki.

Ceritakan kisah anak-anak para sahabat yang sangat antusias mempelajari ajaran Islam, bahkan tidak sedikit yang berani berkurban untuk menegakkan dan mengharumkan kalimat Allah. Imam Ahmad dan Bukhari mengeluarkan sebuah hadits yang bersumber dari Anas Bin Malik r.a yang menceritakan bahwa Haritsah Bin Ar-Rabi’ r.a ikut dalam perang Badar, padahal dia masih kecil. Tiba-tiba sebatang anak panah mengenai urat lehernya, dan mati syahidlah dia. Mendengar berita bahwa anaknya telah gugur di medan perang, ibunya menemui Rasulullah SAW seraya berkata’ “Ya Rasulullah, aku mendengar anakku, Haritsah telah gugur. Jika ia termasuk ahli syurga, aku akan tabah menghadapi musibah ini. Namun, jika terjadi sebaliknya maka Allah akan melihat apa yang akan aku lakukan ini”


Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ibunya Haritsah, anakmu tidak hanya ada di dalam syurga, bahkan dia berada di dalam syurga yang banyak. Dia menjadi ahli firdaus yang paling tinggi”.

Wallahu’alam bi Al-Shawab
Sumber:http://eldiina.com

Pengertian Homeschooling

Homeschooling (HS) adalah model alternatif belajar selain di sekolah. Tak ada sebuah definisi tunggal mengenai homeschooling. Selain homeschooling, ada istilah "home education", atau "home-based learning" yang digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama.

Dalam bahasa Indonesia, ada yang menggunakan istilah "sekolah rumah" atau "sekolah mandiri". Disebut apapun, yang penting adalah esensinya.

Salah satu pengertian umum homeschooling adalah sebuah keluarga yang memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anak-anak dan mendidik anaknya dengan berbasis rumah. Pada homeschooling, orang tua bertanggung jawab sepenuhnya atas proses pendidikan anak; sementara pada sekolah reguler tanggung jawab itu didelegasikan kepada guru dan sistem sekolah.

Walaupun orang tua menjadi penanggung jawab utama homeschooling, tetapi pendidikan homeschooling tidak hanya dan tidak harus dilakukan oleh orang tua. Selain mengajar sendiri, orang tua dapat mengundang guru privat, mendaftarkan anak pada kursus, melibatkan anak-anak pada proses magang (internship), dan sebagainya.

Sesuai namanya, proses homeschooling memang berpusat di rumah. Tetapi, proses homeschooling umumnya tidak hanya mengambil lokasi di rumah. Para orang tua homeschooling dapat menggunakan sarana apa saja dan di mana saja untuk pendidikan homeschooling anaknya.
Sumber : http://www.sekolahrumah.com

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya. Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun, dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat PAUD, 2004). Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewat berarti habislah peluangnya. Untuk itu pendidikan untuk usia dini dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak.

Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980, namun implementasinya belum memasyarakat. Hasil penelitian Herawati (2002) di Bogor menemukan bahwa dari 265 keluarga yang diteliti, hanya terdapat 15% yang mengetahui program BKB. Faktor penentu lain dari kurang memasyarakatnya program BKB adalah rendahnya tingkat partisipasi orang tua. Kemudian pada tahun 2001, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda mengeluarkan program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Namun keberadaan program tersebut sampai saat ini belum menjangkau tingkat pedesaan secara merata, sehingga belum dapat diakses langsung oleh masyarakat.

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumberdaya manusia. Tidak mengherankan apabila banyak negara menaruh perhatian yang sangat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Di Indonesia sesuai pasal 28 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan anak usia telah ditempatkan sejajar dengan pendidikan lainnya. Bahkan pada puncak acara peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2003, Presiden Republik Indonesia telah mencanangkan pelaksanaan pendidikan anak usia dini di seluruh Indonesia demi kepentingan terbaik anak Indonesia (Direktorat PAUD, 2004).

PAUD Berbasis Aqidah Islam

Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk generasi berkualitas pemimpin, yakni (1) berkepribadian Islam,(2) menguasai tsaqofah Islam, dan (3) menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi) yang memadai. Apabila ke tiga tujuan ini tercapai, maka akan terwujudlah generasi pemimpin yang individunya memiliki ciri sebagai insan yang sholeh/sholehah, sehat, cerdas dan peduli bangsa.

Setiap orang harus siap untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan itu sebuah sunatullah dan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT kelak. Sebagaimana ditegaskan didalam sabda Rasulullah SAW: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya... (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dari Ibnu Umar).

Upaya untuk mencapai tujuan pendidikan Islam ini sangat erat kaitannya dengan sistem hidup Islam. Sebagai bagian yang menyatu (integral) dari sistem kehidupan Islam, pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem, yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan, dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. Sementara sub-sub sistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri, anak didik (pelajar/mahasiswa), manajemen, struktur dan jadwal waktu, materi, tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana, alat bantu belajar, teknologi, fasilitas, kendali mutu, penelitian dan biaya pendidikan.

Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan. Proses pendidikan dapat terjadi di mana saja, sehingga berdasarkan pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan dalam menjabarkan pencapaian tujuan pendidikan, maka keberadaan kurikulum pendidikan yang integral menjadi suatu kebutuhan yang tak terelakkan. Kurikulum pendidikan integral sangatlah khas dan unik. Kurikulum ini memiliki ciri- ciri yang sangat menonjol pada arah, azas, dan tujuan pendidikan, unsur-unsur pelaksana pendidikan serta pada struktur kurikulumnya.

Azas pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Azas ini berpengaruh dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, budaya yang dikembangkan dan interaksi diantara semua komponen penyelenggara pendidikan. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai azas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. Dengan istilah lain, aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan. Oleh sebab itu, implementasi pendidikan anak usia dini adalah PAUD BAI.

Pihak-Pihak yang Berperan dalam PAUD

Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan anak usia dini adalah pemerintah (negara), masyarakat dan keluarga. Keluarga adalah institusi pertama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak (generasi). Disanalah pertama kali dasar‑dasar kepribadian anak dibangun. Anak dibimbing bagaimana ia mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajarkan untuk memilih kalimat‑kalimat yang baik, sikap sopan santun, kasih sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajarkan untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk generasi berkualitas dipersiapkan oleh keluarga.

Masyarakat yang menjadi lingkungan anak menjalani aktivitas sosialnya mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena anak satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, baik secara fisik maupun biologis. Oleh sebab itu masalah‑masalah yang akan dihadapi anak ketika berinteraksi dalam masyarakat harus difahami agar kita dapat mengupayakan solusinya. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama, tatkala masing‑masing memandang betapa pentingnya menjaga suasana kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi maka semua orang akan sepakat memandang mana perkara-perkara yang akan membawa pengaruh positif dan mana yang membawa pengaruh negatif bagi pendidikan generasi. Sedapat mungkin perkara negatif yang akan menjerumuskan anak akan dicegah bersama. Disinilah peran masyarakat sebagai kontrol sosial untuk terwujudnya generasi ideal. Masyarakat yang menjadi lingkungan hidup generasi tidak saja para tetangganya tetapi juga termasuk sekolah dan masyarakat dalam satu negara. Karena itu para tetangga, para pendidik dan juga pemerintah sebagai penyelenggara urusan negara bertanggung jawab dalam proses pendidikan generasi.

Selain keluarga dan sekolah, partai dan organisasi masyarakat seperti majelis ta’lim, mempunyai peran dalam melahirkan generasi berkualitas pemimpin. Disanalah generasi akan dibina untuk menjadi politikus yang ulung dan tangguh. Oleh sebab itu, partai dan ormas ini juga berperan dalam membina para ibu agar ibu dapat mendidik generasi secara baik dan benar. Dari seluruh pihak yang mempunyai tanggungjawab dalam mendidik generasi cerdas, generasi peduli bangsa, tentu negaralah yang mempunyai peran terbesar dan terpenting dalam menjamin berlangsungnya proses pendidikan generasi.

Negara bertanggung jawab mengatur suguhan yang ditayangkan dalam media elektronik dan juga mengatur dan mengawasi penerbitan seluruh media cetak. Negara berkewajiban menindak perilaku penyimpangan yang berdampak buruk pada masyarakat dll. Negara sebagai penyelenggara pendidikan generasi yang utama, wajib mencukupi segala sarana untuk memenuhi kebutuhan pendidikan umat secara layak. Atas dasar ini negara wajib menyempurnakan pendidikan bebas biaya bagi seluruh rakyatnya. Kebijakan pendidikan bebas biaya akan membuka peluang yang sebesar‑besarnya bagi setiap individu rakyat untuk mengenyam pendidikan, sehingga pendidikan tidak hanya menyentuh kalangan tertentu (yang mampu) saja, dan tidak lagi dijadikan ajang bisnis yang bisa mengurangi mutu pendidikan itu sendiri. Padahal mutu pendidikan sangat mempengaruhi corak generasi yang dihasilkannya.

Negara wajib menyediakan tenaga-tenaga pendidik yang handal. Mereka yang memiliki kepribadian Islam yang luhur, punya semangat pengabdian yang tinggi dan mengerti filosofi pendidikan generasi serta cara‑cara yang harus dilakukannya, karena mereka adalah tauladan bagi anak didiknya. Kelemahan sifat pada pendidik berpengaruh besar terhadap pola pendidikan generasi. Seorang guru tidak hanya menjadi penyampai ilmu pada muridnya tetapi ia seorang pendidik dan pembina generasi. Agar para pendidik bersemangat dalam menjalankan tugasnya tentu saja negara harus menjamin kehidupan materi mereka. Ini dapat memberi motivasi lebih pada mereka meski tugas mereka tidak ditujukan semata untuk memperoleh materi, tetapi merupakan ibadah yang mempunyai nilai tersendiri di sisi Allah SWT. Betapa besar jasa para pendidik yang hingga ada ungkapan: "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa". Tentu saja pengabdian mereka harus mendapat penghargaan, dan ini merupakan tanggungjawab negara.
Sumber : http://eldiina.com

Sejarah Homeschooling

Pendidikan di rumah bukanlah sebuah hal yang baru. Sebelum ada sistem pendidikan modern (sekolah) sebagaimana yang dikenal pada saat ini, pendidikan dilakukan berbasis rumah. Sistem magang adalah model pendidikan yang sangat dikenal oleh masyarakat. Demikian pun belajar otodidak yang sampai sekarang masih dilakukan.Selain itu, para bangsawan zaman dahulu biasa mengundang guru-guru privat untuk mengajar anak-anaknya. Itulah jejak homeschooling pada masa dahulu.
Sejak perkembangan revolusi industri, terjadi proses sistematisasi pendidikan dan proses belajar. Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan serta usaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran selama berabad-abad menghasilkan sebuah evolusi sistem pendidikan yang kemudian kita kenal sebagai sekolah. Sekolah adalah salah satu representasi institusional dari nilai-nilai modern yang dipegang manusia saat ini. Sebagai institusi modern, sekolah adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan keluarga da;am mendidik anaknya secara sadar dan terencana.

Sejak perkembangan revolusi industri, terjadi proses sistematisasi pendidikan dan proses belajar. Perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan serta usaha untuk memaksimalkan proses pembelajaran selama berabad-abad menghasilkan sebuah evolusi sistem pendidikan yang kemudian kita kenal sebagai sekolah. Sekolah adalah salah satu representasi institusional dari nilai-nilai modern yang dipegang manusia saat ini. Sebagai institusi modern, sekolah adalah solusi untuk mengatasi keterbatasan keluarga da;am mendidik anaknya secara sadar dan terencana.

Walaupun sekolah menjadi institusi pendidikan yang terbukti memberikan manfaat bagi kemanusiaan, bagaimana proses pencarian pendidikan yang terbaik tak pernah berhenti. Berbagai filsafat dan pemikiran terus lahir, serta berinteraksi dengan kondisi sosial yang dialami oleh masyarakat.

Di Amerika Serikat, gelombang pertama homeschooling terjadi pada era 1960-an. Pada masa ini, mulai muncul pemikiran bahwa anak-anak belajar lebih baik jika tanpa instruksi sebagaimana di sekolah (John Holt). Banyak pemikiran yang muncul mempertanyakan efektivitas sekolah dalam menjalankan fungsi pendidikan. Selain Holt, inisiator dan pejuang homeschooling pada masa itu adalah Dr. Raymon Moore, seorang psikolog perkembangan dan peneliti pendidikan. Akhir 1970-an, Holt menerbitkan surat kabar "Growing Without School" yang menjadi sistem pendukung homeschooling pada masa itu.

Setelah itu, homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan. Selain karena alasan keyakinan (beliefs), pertumbuhan homeschooling juga banyak dipicu oleh ketidakpuasan atas sistem pendidikan di sekolah. Keadaan pergaulan sosial di sekolah yang tidak sehat juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan homeschooling.

Walaupun awalnya dipersepsi sebagai kelompok konservatif dan penyendiri (isolationists), homeschooling terus tumbuh dan membuktikan diri sebagai sistem yang efektif dan dapat dijalankan. Praktisi homeschooling pun semakin bervariasi; dengan berbagai alasan memilih homeschooling dan dengan beragam latar belakang sosial: relijius dan sekuler; kaya, kelas menengah, miskin; kota (urban), pinggiran (suburban), pedesaan (rural). Keluarga praktisi homeschooling memiliki beragam profesi; dokter, pegawai pemerintah, pegawai swasta, pemilik bisnis, bahkan guru di sekolah umum.
Sumber : http://www.sekolahrumah.com

INFAQ, SHADAQAH DAN ZAKAT MAAL

HS Anak Shaleh 02 menerima infaq, shadaqah dan zakat dari kaum muslimin dan muslimat. Peran serta dalam program ini silahkan kirimkan melalui rekening Bank Mandiri Cabang Jakarta Pasar Rebo atas nama Supriyanta dengan nomor rekening 129. 000.244.0259

Setiap transfer hendaknya disertai berita yang menjelaskan peruntukan dana tersebut. Transfer dana yang tidak disertai keterangan atau berita akan kami perlakukan sebagai infaq dan shadaqah. Kebijakan ini kami ambil ambil karena kami memisahkan dana yang dimaksudkan untuk zakat maal. Zakat maal akan kami salurkan khusus kepada delapan ashnaf sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al Quran.

Lokasi HomeSchooling

Rabu, 05 Agustus 2009




terletak di Jl. Padat karya No. 10 RT 01 RW 08 Desa Nagrak Kec. Gunung putri - Bogor.






Tempat kegiatan Home schooling...




Media ajar.


Kreasi Anak.



Berbagai macam permainan edukatif.





Rumah Baca Nurul Ilmi.

Launching HS Anak Shaleh 02 2009


Pembukaan... dari pihak penyelenggara...



Selayang pandang mengenai Homeschooling.




Antusias para Ibu dalam mengamati pentingnya pendidikan anak usia dini.

Have Fun in HS Anak Shaleh 02

Sabtu, 01 Agustus 2009



Anak Shaleh..,, Taqwa... Cerdas... Kreatif... Mandiri...




Sehatkan tubuh dengan berolah raga...





Ayooo.... kita Shalat...



Ayooo... Menghafal Qur'an dan hadits...!







Wahh serunya,, Bermain sambil Belajar...\(^^)/





Al-muslimu akhul muslim...^^

Selamat Datang di HS Anak Shaleh 02

Rabu, 29 Juli 2009



HS Anak Shaleh 02 yang terletak di Jl. Padat karya No. 10 RT 01 RW 08 Desa Nagrak Kec. Gunung putri - Bogor diresmikan pada tanggal 13 Juli 2009 adalah sebuah wujud keseriusan dari penduduk setempat tentang kepedulian akan pentingnya pendidikan untuk anak. Sebelum HS Anak Shaleh 02 ini di dirikan, sebelumnya telah berdiri HS Anak Shaleh 01 di daerah Jatisampurna Kranggan.

HS Anak Shaleh 02 berada dibawah naungan LPAS (Lembaga Pendidikan Anak Shaleh) dimana lembaga ini didirikan untuk berkontribusi dalam mewujudkan generasi dambaan (Taqwa, cerdas, kreatif, dan mandiri) dengan melibatkan peran orang tua secara langsung dalam proses pendidikan anak. Untuk mewujudkan generasi dambaan diperlukan peran ibu yang memiliki kepribadian Islam, memiliki keinginan kuat serta kesadaran untuk mendidik anak sebagai aset masa depan umat, mengetahui dan menguasai konsep pendidikan anak Berbasis Aqidah Islam (BAI). Hal ini dilakukan dengan cara menyediakan program-program berkualitas bagi Ibu, Anak (usia dini, pra baligh, dan usia baligh) dan seluruh anggota masyarakat yang perduli pendidikan generasi.

Visi : Menjadi lembaga pendidikan islami yang berkualitas

Misi :
  1. Berperan serta mencerdaskan umat
  2. Memberikan pendidikan terbaik bagi semua kalangan
  3. Melahirkan generasi pemimpin amanah
Program Unggulan
  1. Program Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Islam (PAUD BAI) dengan metode Homeschooling Group.
  2. Program Pembekalan Para Ibu (P3I) dan anggota masyarakat yang perduli akan generasi.
  3. Penelitian dan pengkajian tentang pendidikan Ibu dan Anak.
Bentuk kegiatan
  1. Homeschooling Anak Shaleh 02 untuk usia dini (2-6 tahun)
  2. Kajian rutin mingguan bagi para ibu
  3. Penyediaan sarana-sarana pendidikan anak seperti: buku, VCD, dll
  4. Pemberdayaan masyarakat dalam mencerdaskan generasi melalui penyaluran infak dan wakaf untuk pengembangan kualitas serta sarana dan prasarana pendidikan
Susunan Pengurus HS Anak Shaleh 02


Ketua Penyelenggara : Syahriani







Ketua Koordinator Pengajar : Dwi Herna Sutopowati







Staff pengajar:


Dina Amelia E. P



Untuk Info lebih lanjut Hub : 021 824 91302